PERMASALAHAN FILOSOFIS DALAM DUNIA PENDIDIKAN



Permasalahan Filosofis dalam Dunia Pendidikan

Oleh: Alimul Huda

A.    Permasalahan Filosofis dalam Dunia Pendidikan
1.  Isu difabilitas dan pendidikan inklusif merupakan isu sosial yang belum begitu menjadi perhatian dari berbagai pihak termasuk perguruan tinggi.
2.    Kaum difabel termasuk kaum marginal karena selama ini dianggap memiliki “kelainan”, dan selama ini kurang mendapatkan advokasi.
3.    Pendidikan inklusif yang selama ini berjalan lebih banyak berada pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sedangkan pendidikan tinggi inklusif belum mendapatkan perhatian yang serius.
4.   Akses pendidikan tinggi adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap individu termasuk difabel, oleh karena itu sangat tidak adil jika hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja. Pengembangan isu pendidikan tinggi inklusif ini merupakan salah satu langkah kampanye pendidikan universal.
5.   Masih banyak perguruan tinggi yang tidak menerapkan pendidikan inklusif karena berbagai alasan salah satunya adalah masalah pendanaan, oleh karena itu perlu ada pemahaman bersama tentang pentingnya pendidikan kesetaraan dan pendidikan untuk semua.
6.    Belum ada standar baku tentang sistem pendidikan inklusif di perguruan tinggi, termasuk di dalamnya belum adanya standarisasi model pembelajaran dan penilaian mahasiswa difabel, sarana prasarana yang belum aksesibel, dan tidak tersedianya layanan pendukung difabel.
7.      Lingkungan perguruan tinggi inklusif belum dimodifikasi sesuai dengan kondisi mahasiswa difabel,
8.      Aceptabilitas masyarakat dan dunia perguruan tinggi masih rendah terhadap mahasiswa difabel,
9.      Sistem penilaian yang dilakukan di perguruan tinggi inklusif belum aksesibel,
10.  Minimnya pusat layanan difabel yang ada di perguruan tinggi,
11.  Pengembangan diri mahasiswa difabel belum begitu maksimal, karena lingkungan kampus belum di desain sesuai dengan kondisi difabilitas mahasiswa.
12.  Penyandang disabilitas masih mengalami diskriminasi dalam dunia pendidikan
13.  Perguruan tinggi belum benar-benar accecible bagi penyandang disabilitas
14. Praktek pendidikan inklusi hanya menyentuh aspek normatif dan belum benar-benar diinternalisasikan oleh setiap orang
15.  Budaya memiliki peran dalam membentuk praktek diskriminasi terhadap penyandang disabilitas
16.  Budaya inklusif (inclusive culture) belum benar-benar diterapkan di perguruan tinggi
17.  Konsep budaya inklusif (inclusive culture) di perguruan tinggi belum pernah dirumuskan secara  jelas

B.     Identifikasi Persoalan Penelitian Disertasi
1.    Penyandang disabilitas masih mengalami diskriminasi dalam dunia pendidikan
2.    Perguruan tinggi belum benar-benar accecible bagi penyandang disabilitas
3.    Lingkungan perguruan tinggi inklusif belum dimodifikasi sesuai dengan kondisi mahasiswa difabel,
4.    Aceptabilitas masyarakat yang masih rendah terhadap mahasiswa difabel,
5.    Minimnya pusat layanan difabel yang ada di perguruan tinggi,
6.    Praktek pendidikan inklusi hanya menyentuh aspek normatif dan belum benar-benar diinternalisasikan oleh setiap orang
7.    Budaya memiliki peran dalam membentuk praktek diskriminasi terhadap penyandang disabilitas
8.    Budaya inklusif (inclusive culture) belum benar-benar diterapkan di perguruan tinggi
9.    Konsep budaya inklusif (inclusive culture) di perguruan tinggi belum pernah dirumuskan secara  jelas

C.    Rancangan Disertasi
1.      Judul
Inclusive Culture: Upaya Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas di Perguruan Tinggi

2.      Latar Belakang
Berdasarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus di Perguruan Tinggi pasal 7 bahwa pimpinan perguruan tinggi harus memfasilitasi terbentuknya budaya inklusif di kampus.
Pembentukan budaya inklusif menjadi salah satu solusi untuk mengurai masalah diskriminasi yang selama ini dialami penyandang disabilitas. Perlu ada tindakan preventif untuk menghindari tindakan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas melalui budaya inklusi. Selama ini pendidikan inklusi hanya menyentuh aspek normatif namun belum menyentuh aspek internalisasi dari nilai-nilai inklusi itu sendiri.
Sistem dalam pendidikan inklusi harus didesain sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodir setiap keragaman, sehingga peserta didik penyandang disabilitas benar-benar menjadi bagian dari keragaman itu sendiri.
Budaya inklusi sebagai bagian dari tata nilai yang diyakini masyarakat kampus dapat menjadi jembatan untuk menciptakan pendidikan kesetaraan dan tanpa diskriminasi.
Ada beberapa alasan mengapa penelitian ini penting untuk dilakukan yaitu: Pertama, hak penyandang disabilitas belum benar-benar diakomodir oleh perguruan tinggi karena tidak semua perguruan tinggi mau menerima mahasiswa disabel. Kedua, kasus bully yang dialami oleh mahasiswa penyandang disabillitas menunjukan bahwa praktek diskrimasi masih terjadi di perguruan tinggi, hal ini menunjukan bahwa masyarakat kampus belum benar-benar terbuka dengan konsep pendidikan inklusi. Ini seperti fenomena gunung es, jika diteliti lebih dalam akan ditemukan kasus-kasus serupa yang lebih banyak. Ketiga, belum ada konsep yang jelas tentang budaya inklusi di perguruan tinggi, sehingga perlu dirumuskan secara matang supaya dapat diimplementasikan dengan baik.

3.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimana konsep ideal budaya inklusif (inclusive culture) dan implementasinya di perguruan tinggi?
b.      Bagaimana kontribusi budaya inklusi bagi pemenuhan hak penyandang disabilitas d perguruan tinggi?

4.      Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode mixed method yang memadukan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang. Pemilihan locus dikarenakan perguruan tinggi tersebut memiliki mahasiswa penyandang disabilitas dan dilengkapi sarana pendukung yang accesible.
Teknik penentuan subjek penelitian adalah stratified random sampling yaitu sistem pengambilan sampel secara random terhadap tingkatan-tingkatan (kelompok-kelompok) yang ada dalam populasi. Sedangkan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, teknik wawancara, teknik observasi, dan studi dokumen
Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan teknik statistik deskriptif untuk menganalisis data numeric dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Sedangkan langkah-langkah analisis data kualitatif dalam penelitian ini menggunakan siklus interaktif yang komponennya meliputi reduksi data (data reduction), sajian data (data display), dan penggambaran kesimpulan (conclusion drawing) sebagai suatu proses siklus.

klik disini 

#Marsigitism
https://powermathematics.blogspot.com/
#Marsigit
marsigit




x

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PERJALANAN METAFISIKA: SEBUAH REFLEKSI FILSAFAT MARSIGITSM