PERJALANAN METAFISIKA: SEBUAH REFLEKSI FILSAFAT MARSIGITSM
PERJALANAN
METAFISIKA:
SEBUAH REFLEKSI FILSAFAT MARSIGITSM
REVIEW
PERKULIAHAN
FILSAFAT PENELITIAN
DAN EVALUASI PENDIDIKAN
PROF. DR.
MARSIGIT, M.A.
Oleh : Alimul
Huda
Semakin instens kita mempelajari sesuatu maka semakin
banyak yang tidak kita ketahui. Itulah pelajaran pertama yang kita dapat saat
mempelajari Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan yang diampu Prof. Dr.
Marsigit, M.A. Kita menjadi benar-benar tahu bahwa pengetahuan yang kita miliki
masih dangkal bahkan kosong. Maka wajar sekali jika tidak ada mahasiswa yang
mendapatkan nilai sempurna saat tes jawab cepat yang dilakukan oleh Prof.
Marsigit setiap awal perkuliahan. Beliau menyampaikan, “Seorang filsuf besar
pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab
cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah
dirimu sendiri. Metode berfilsafat itu terjemah dan terjemahkan.
Terjemahkanlah diriku, dengan memahami pikiranku melalui cara membaca, membaca,
dan membaca. Kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya,
ternyata diri anda masih kosong karena belum banyak membaca.”
Pertanyaan-pertanyaan jawab singkat ini fungsinya
tidak semata-mata mengetahui pikiran mahasiswa tapi sarana untuk mengadakan
dari yang mungkin ada. Karena esensi filsafat adalah mengetahui apa yang
ada dan mungkin ada. Dan sebenar-benar filsafat adalah berfikir. Seperti pernyataan
Rene Descartes “Aku ada karena berpikir”. Seorang benar-benar ada karena dia
berfikir, jika seseorang sudah tidak bisa berfikir berarti dia sudah tidak ada,
atau ada di alam lain. Ada dan tiada inilah yang disebut metafisik.
Prof. Marsigit pada kesempatan lainnya menjelaskan
bahwa hidup manusia itu metafisik, jadi setelah yang ada masih ada yang ada
lagi dan tidak akan selesai, karena manusia tidak sempurna. Kenapa manusia
tidak sempurna? supaya manusia bisa hidup. Sebab kalau manusia itu sempurna dia
tidak akan bisa hidup. Kesempurnaan manusia itu tidak sempurna atau bisa
dikatakan sempurna di dalam ketidaksempurnaan dan ketidaksempurnaan dalam
kesempurnaan. Beliau mencontohkan ketika kita membuka jendela dan melihat
keluar jendela, maka disebalik itu yang disebut metafisika, ketika kita melihat
disebalik tadi maka metafisika adalah disebaliknya sebalik. Belau menambahkan
bahwa metafisik adalah sifat dibalik sifat, sifat mendahului sifat, sifat
mengikuti sifat, sifat mempunyai sifat. Maka sebenar-benar manusia adalah sifat
mengikuti sifat.
Awal dari aktifitas manusia itu sendiri adalah fatal
dan fital, fatal itu terpilih, dan terpilih itu takdir. Sebagai contoh saya
akan memilih dua benda dengan warna yang berbeda (satu benda berwarna putih dan
satu lainnya berwarna mera), saya memilih benda yang berwarna putih, ini
takdir. Kenapa takdir karena sudah terjadi. Sedangkan fital itu memilih, memilih
itu ikhtiar. Kehidupan itu tidak terlepas dari fital dan fatal. Fital sesuai
dengan ruang dan waktu kemudian diimbang fatal dengan berdoa setelah sebelumnya
berikhtiar. Dimensi spiritual seperti doa dan ibadah ini juga yang mendasari
munculnya metafisika, karena ini berkaitan dengan kepercayaan tentang sesuatu
yang ada dan tidak ada.
Kemunculan metafisika dalam aliran filsafat, tidak
bisa terlepas dari sejarah filsafat itu sendiri. Berkaitan dengan hal itu,
Prof. Marsigit menjelaskan tentang Lahir dan Perjalanan Filsafat. Beliau
menyampaikan bahwa sebenar-benar dirimu adalah bahasamu. Sebenar-benar bahasamu
adalah tulisanmu. Sebenar-benar tulisanmu adalah kata-katamu. Jadi
sebenar-benar pikiran adalah bahasa.
Pikiran itu sendiri bersifat ontologis. Ada yang
bersifat di dalam pikiran (monoisme) dan diluar pikiran (pluralisme). Monoisme itu
kuasa Tuhan bersifat absolut atau ideal. Dari sinilah muncul aliran absolutism atau
idealism yang diprakarsai oleh Plato. Sedangkan pluralism merupakan urusan
dunia, yang berasal dari pemikiran Aristoteles. Urusan dunia bersifat
materialisme sedangkan urusan dengan Tuhan bersifat spiritualisme. Menurut Plato,
dalam filsafat, kebenaran yang hakiki dapat diraih melalui ilmu pengetahuan. Filsafat
adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari
segala sesuatu yang ada. Objek filsafat yang ada dan mungkin ada itu bersifat
tetap, misal pikiran. Dalam konteks ini Plato lebih menekankan pada sifat
idealisme.
Berbeda dengan Palto, Aristoteles memahami filsafat
sebagai ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan
penyebab-penyebab dari realitas yang ada. Melihat perbedaan pandangan tersebut,
Immanuel Kant hadir dan mencoba melakukan elaborasi antara empirisme dan rasionalisme.
Menurut Kant, esensi ilmu adalah yang bersifat sintetik a priori. A priori
dipikirkan dan sintetik dicoba. Inilah yang mendasari lahirnya metode
Saintifik. Maka berfilsafat adalah pikirkan pengalamanmu dan terapkan
pikiranmu.
Kemudian, munculah problem filsafat, yaitu apabila
sesuatu didalam pikiran bagaimana menjelaskan kepada orang lain dan apabila
diluar pikiran bagaimana cara memahaminya. Hal ini ditanggapi secara cerdas
oleh Socrates. Socrates berusaha memahami semua yang ada dan mungkin ada tak
satupun yang ia ketahui. Socrates menyampaikan sebenar-benar diriku adalah
tidak mengetahui apapun. Maksudnya adalah untuk dapat mengetahui sesuatu seseorang
harus berpikir dan selalu mencari ilmu pengetahuan. Karena filsafat itu harus
diyakini, dijalankan, dan di alami.
Filsafat itu bagaiamana menjelaskan yang ada di dalam pikiran kita
kepada orang lain. Yang kedua bagaimana memahami apa yang ada diluar pikiran
kita.
Pada dasarnya dunia terdiri dari 4 dimensi yaitu
material, formalitas, normatif dan spiritual. Melalui teori ini munculah revolusi
Copernicus dengan teorinya bernama Heliosentris yang membantah teori geosentris
yang telah ada. Copernicus mengemukakan bahwa matahari adalah pusat edar tata
surya dan perputaran harian langit akibat perputaran bumi pada sumbu
putarannya. Copernicus menyelidiki dan membantah adanya suatu teorema dari
gereja serta adanya saintifik yang dipakai dalam gereja. Dari keadaan ini maka
munculah antara rasionalis dan emperis tersebut.
Kemudian munculah orang baru yaitu Auguste Comte
yang menganggap bahwa pendapat-pendapat mereka tidak ada artinya di dalam
membangun dunia. Menurut Comte agama tidak bisa digunakan untuk membangun dunia
karena tidak logis. Membangun dunia harus dengan rasional yaitu dengan
saintifik. Urutan yang pertama itu yaitu santifik kemudian filsafat kemudian
baru agama. Urusan agama menurut comte adalah urusan yang paling bawah dan
terakhir.
Dalam konteks saat ini, pemikiran Comte secara tidak
sadar diikuti oleh banyak orang, dimana ada kecenderungan banyak orang yang lebih
mengedepankan dunia daripada aspek spiritualitas. Hal ini salah satunya diakibatkan
oleh perkembangan teknologi yang semakin maju. Sehingga Prof. Marsigit menyampaikan
bahwa teknologi disamping menghasilkan kesejahteraan juga memunculkan
kemunafikan. Kehadiran teknologi mampu menggeser keyakinan seseorang tentang
sesuatu yang transenden, sehingga mampu meninggalkan ajaran agamanya. Dalam aliran
metafisika ini disebut spiritualism.
Prof. Marsigit di akhir perkuliahan menceritakan
pengalaman metafisik beliau. Dimulai dari pengalaman religius kedua orang tua
beliau yang secara genetis turun pada Prof Marsigit, dan kemudian turun kepada kedua
putra dan cucu-cucu beliau. Sifat idealis dan logis yang dimiliki Prof.
Marsigit inilah yang akhirnya mampu menghantarkan putra-putra beliau menjadi
sosok yang tanggung dan sukses dalam kehidupannya. Inilah yang disebut metafisika, dimana sifat
mengikuti sifat. Sifat kita mengikuti sifat orang tua kita, dan begitu
seterusnya hingga anak cucu kita.
klik disini
#Marsigitism
https://powermathematics.blogspot.com/
#Marsigit
marsigit
klik disini
#Marsigitism
https://powermathematics.blogspot.com/
#Marsigit
marsigit
x
Terima kasih atas sharing perenungannya Mas Huda. sungguh bermanfaat bagi kita.
ReplyDelete